The Special One

Ada beberapa tahap belajar yang masih saya ingat.

1. Belajar Naik sepeda, Waktu itu, SD kelas 2, umur saya sekitar 5 tahun. Sepeda pertama saya sampai sekarang masih ada. Papa memang seorang perfectsionist, biasanya dia membeli barang yang tingkat keawetannya di atas rata-rata.  Sepeda 4 roda ini, menjadi hadiah rangking satu kala itu. Seingat saya, tidaklah terlalu rumit untuk belajar mengendarai sepeda empat roda ini. Dua minggu setelah dibelikan, saya melepas dua roda bantuan dibelakang, dan jadilah sepeda tersebut memiliki dua roda saja. Disinilah ketegangan belajar naik sepeda dimulai. Persisnya saya tidak ingat lagi, tapi siang malam yang ada dalam ingatan saya waktu itu adalah menaklukan sepeda dua roda ini. Jatuh dan luka bukan menjadi halangan. ah kawan..belajar naik sepeda itu memang special, tak akan membuat mu bosan. Ketegangannya membuat kau takkan bisa tidur siang malam.

2. Belajar Naik motor, waktu itu SMP kelas 2. Rasannya masih hangat di kuping deru nafas papa yang tegang waktu mengajari saya mengedalikan Honda CG110 nya. Dan lagi-lagi, kendaraan itu masih ada sekarang. Masih utuh, papa memang seorang perfectsionist. Barang apapun yang dimilikinya selalu awet. karena pemilihan kualitas barang yang sangat-sangat detail. Motor dapat saya taklukan tidak lebih dari 1 malam. Hanya belajar naik motor tidak setegang ketika belajar naik sepeda. Mungkin karena jatuh dan terluka sudah menjadi hal yang biasa.

3. Belajar Bawa mobil. Ini terjadi ketika kelas 3 SMA. Masih hangat di ingatan bagaimana mobil kantor-nya Ka Riri, tetangga kosan saya di makassar, saya serudukkan di trotoar. Tapi ini juga proses yang tidak terlalu menegangkan. Selain karena itu bukan mobil saya, juga karena kendaraan 4 roda tidak bisa membuat kita jatuh

Ternyata, dari ketiga jenis kendaraan yang bisa saya kuasai ini, belajar naik sepeda-lah yang paling menegangkan. Walau sama-sama beroda dua, belajar sepeda memberikan sensasi tersendiri dibandingkan naik motor, konon kepintaran naik sepeda diperlihatakan dari seberapa kali kita jatuh. Semakin sering jatuh maka semakin ahli mengendarainya.

Sekarang, 11 Novermber 2012.

Rasanya seperti pertama kali naik sepeda. Dag..dig..dug..Tegangnya bukan main. mungkin karena lagi jatuh, walau bukan di atas kendaraan beroda dua, tapi kemungkinan luka membuatnya semakin menagangkan. Selanjutnya, kita lihat saja nanti…

About mpang

Arpan Parutang ...that's all..

Posted on November 11, 2012, in Umum. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Jatuh dari apa om Arpan? Semoga semua akan kembali baik-baik seperti biasanya. What doesn’t kill you makes you stronger, anyway! 😉

  2. ..jatuh dari…hehehehhe… ^^ sepakat banged ama quote-nya mama wortel..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: