a morning coffee story – fade away

15 April 2015, day 3 of Ujian Nasional SMA/SMK.

Semua kalimat akan diakhiri oleh titik, tapi pengalaman tidak ada titiknya. Semua hanya koma, karena sejatinya, akhir dari satu cerita adalah awal dari cerita berikutnya. Setelah tiga tahun mengalami cerita sekolah tingkat menengah, maka ujian ini bukan tes terakhir cerita belajar, ini hanya pintu baru untuk ruang pengetahuan baru yang akan ada, entah formal atau tidak. Umur remaja tidak pernah berulang, ketika keringat dan tenaga sangat berlebih untuk berjuang, maka memeras-nya adalah sebuah kewajiban. Belum waktunya terpedaya nikmatnya berbuat curang, atau terpenjara kreativitas atas nama kebutuhan. Pengetahuan harusnya diterjemahkan sebagai pembuka kebebasan, dan remaja adalah ruang untuk bertahan pada idealisme yang suatu saat nanti mungkin harus tergerus kata bijaksana, hanya sekarang belum saatnya bijaksana. satu saja yang jangan, yaitu perbuatan merugikan orang lain, itu zalim, baik untukmu yang baru membuka pintu dewasa maupun mereka yang telah uzur di makan usia.

Ujian Bahasa Indonesia, Matematika, bahasa inggris maupun produktif, hanya soal-soal yang harus dijawab dan tidak untuk mengukur taraf bahagia pada hidupmu nantinya. Jadi, jikapun hasilnya tidak memuaskan, anggap saja itu bagian dari cerita tidak bertitik, tidak perlu menyesal, karena Tuhan telah membuatmu dengan sempurna, maka jalanilah hidupmu dengan sempurna. Kamu mungkin ikan yang tidak bisa diukur dari kemampuanmu memanjat pohon, jadi perlakukan ujian sebagai kerikil saja untuk kau injak dan rasakan sakitnya ketika melangkah, atau sesuatu yang harus kau singkirkan untuk memuluskan jalanmu, atau…kumpulkan saja dan jual, untuk menebalkan uang jajanmu..sesimpel itu.

jangan biarkan orang lain menjadi hakim dalam cerita hidupmu, karena yang lebih tau dirimu adalah kamu, walau sesekali perlulah kau bercermin untuk melihat apa ada noda tinta di pipi manismu yang mulai berjerawat. Tapi ingat, sebanyak apapun noda di pipimu, kamulah yang harus membersihkannya, orang lain hanya jadi komentator ketika melihat, sedikit yang peduli dan memberimu tisyu.

Aku akan menua, begitupun kamu, dan cerita kita akan mulai berbeda. Pada pintu berikutnya, aku tidak ada lagi disana, semua yang kutakatan mungkin tidak akan abadi dalam ingatanmu, karena memori kepalamu yang jenius isinya sangat banyak. Jadi apapun kamu nanti, aku tidak akan pernah menyesal, karena semua mantra telah kuajarkan, sekarang tinggal bagaimana kamu menggunakan. Mantra itu bisa membunuh dan bisa menyembuhkan, lafaz-kan saja saat kamu perlu, kegunaannya akan menyesui dengan inginmu.

JIkapun kita tidak akan pernah bersua, sampai umur habis, ingatlah disana ada surga, itu kata guru agama kita. Dimana aku, kamu dan mereka akan bersama……..dan itu untuk selamanya

About mpang

Arpan Parutang ...that's all..

Posted on April 15, 2015, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: